Pageant ajang misoginis?
Kayaknya aku belum pernah cerita di sini ya.. di tahun 2023 (iya, ternyata udah dua tahun lalu 😅) aku tiba-tiba ikut ajang pageant… dan lebih tiba-tiba lagi, aku bawa pulang piala! Yes, aku juara 2 di Putri Hijabfluencer NTB, selanjutnya aku sebut aja Putri Hijab biar gak kepanjangan. Awalnya aku diumumkan sebagai runner up 2 (juara 3), tapi kemudian naik jadi runner up 1 (juara 2) karena RU 1 sebelumnya didiskualifikasi. (Detailnya gak usah dibahas ya 😌).
Dari Penonton Setia ke Panggung Sungguhan
Sejak kecil aku suka banget nonton Putri Indonesia. Selalu kagum lihat para finalis yang tampil anggun, percaya diri, dan pintar berbicara di depan publik. Dalam hati, aku sering mikir, “Kayaknya seru deh kalau bisa ngerasain berdiri di atas panggung itu.”
Tapi ya cuma sebatas penasaran aja. Sampai akhirnya, di usia yang masih memenuhi syarat daftar(maksimal 28 tahun waktu itu), aku lihat info audisi Putri Hijab NTB. Menariknya, ajang ini gak membatasi peserta hanya untuk lajang, perempuan menikah pun boleh ikut! Setelah ngobrol dan dapat izin dari suami, aku pun memutuskan, “Kenapa enggak? Sekalian nambah pengalaman dan cerita buat anak perempuanku nanti.” Siapa tahu kalau suatu hari dia tertarik ikut ajang serupa, aku bisa kasih banyak tips dari pengalaman langsung 😄
Bukan Sekadar Soal “Cantik”
Aku tau, banyak yang bilang ajang “kecantikan” itu misoginis, alias merendahkan perempuan, menilai dari fisik, dan memperkuat stereotip gender. Tapi pengalamanku di Putri Hijab justru berbeda.
Ajang ini gak menilai kecantikan dari kulit, tinggi badan, atau bentuk tubuh aja. Mereka fokus pada pengalaman, keterampilan, attitude, dan kontribusi sosial. Bayangin aja, aku yang:
- biasanya dianggap “terlalu kurus” dan kurang ideal
- gak tinggi-tinggi banget kayak model pda umumnya
- pakai kacamata karena minus
- dan gigi sempat relapse setelah lepas behel zaman SMP 🤣
… tetap bisa lolos, bahkan jadi salah satu juaranya! Itu bukti bahwa yang dilihat bukan hanya “casing luar”, tapi juga inner beauty dan kepribadian. Bahkan, waktu itu ada finalis dari DIY yang penyandang disabilitas, dan beliau tetap tampil luar biasa di panggung. Sangat inklusif dan memberdayakan.
Sedikit Ngobrolin: Apa Itu Misoginis?
Kata “misoginis” berasal dari bahasa Yunani:
- misos = kebencian
- gynē = perempuan
Secara sederhana, misoginis berarti kebencian terhadap perempuan. Tapi di zaman sekarang, bentuknya bisa halus dan sistemik, misalnya:
- menilai perempuan hanya dari fiksi k
- mengatur cara berpakaian dan pilihan hidup perempuan
- mengabaikan suara atau hak perempuan
- atau terus melanggengkan stereotip seperti “perempuan itu lemah” atau “perempuan itu cuma cantik”.
Jadi, Pageant Itu Misoginis?
Tergantung. Kalau pageant cuma jadi tontonan yang menilai fisik dan menormalisasi standar kecantikan tertentu (harus putih, tinggi, langsing, dst), ya… itu bisa dibilang misoginis.
Tapi kalau dirancang sebagai platform pemberdayaan perempuan, memberi ruang untuk berbicara, berkarya, dan menginspirasi seperti Putri Hijab menurut pengalamanku, maka justru bisa jadi wadah positif.
Cantik Itu Banyak Bentuknya 💫
Ikut pageant bukan cuma soal tampil cantik di panggung. Buatku, ini pengalaman berharga untuk:
- belajar percaya diri
- menantang batas diri sendiri
- dan menunjukkan bahwa perempuan bisa tampil kuat, cerdas, dan punya suara dengan caranya masing-masing.
Kecantikan gak harus selalu sesuai standar orang lain. Kadang, justru ketika kita berani tampil apa adanya, di situlah cahaya cantik yang sebenarnya muncul ✨

Comments
Post a Comment