Oktober, Bulan Kesadaran Sensorik (Sensory Awareness Month)
Tahukah Moms, setiap bulan Oktober dunia memperingati Sensory Awareness Month, momen untuk meningkatkan kesadaran tentang cara unik setiap individu dalam memproses informasi dari pancaindra mereka.
Beberapa anak bisa sangat sensitif terhadap suara, cahaya, atau sentuhan. Tapi ada juga yang justru tampak selalu ingin bergerak, menyentuh, mencium, atau merasakan berbagai hal di sekitarnya. Anak-anak seperti inilah yang sering disebut “sensory seekers”, mereka mencari rangsangan sensorik untuk merasa nyaman, fokus, dan bahagia.
👶 Ciri-Ciri Sensory Seekers yang Aku Lihat di Anakku
- Pecinta tekstur sejak dini.
Saat pertama kali diajak ke pantai di usia 8 bulan, anakku langsung antusias main pasir. Sementara anak lain masih ragu atau takut menyentuh pasir, dia malah menepuk-nepuk dan menggenggamnya dengan senyum lebar. - Lebih nyaman tanpa alas kaki.
Sepatu dan kaos kaki bukan favoritnya. Ia lebih suka “nyeker” supaya bisa merasakan langsung tekstur tanah atau lantai di bawah kakinya. - Makan pakai tangan = pengalaman sensorik.
Walau sudah bisa menggunakan sendok dan garpu, dia lebih memilih makan pakai tangan alias “muluk”. Bagi dia, menyentuh makanan itu bagian dari eksplorasi rasa dan tekstur. - Mengenali dunia lewat aroma.
Kadang sebelum menyentuh benda baru, dia akan menciumnya dulu. Seolah aroma adalah “peta awal” untuk mengenali sesuatu. - Butuh gerak untuk menenangkan diri.
Saat bosan, cemas, atau bingung, dia sering fidgeting, menggigit ujung baju, memainkan jari, melompat-lompat, atau menggoyangkan tubuhnya sendiri.
🌿 Apakah Harus Khawatir?
Gak selalu ya Moms. Anak-anak sensory seekers umumnya punya rasa ingin tau sensorik yang tinggi. Mereka senang belajar melalui pengalaman langsung dengan pancaindranya, menyentuh, mencium, mencicipi, bergerak, dan mendengar. Yang penting, kebutuhan sensorik mereka disalurkan melalui aktivitas yang aman dan positif, seperti:
- Bermain ayunan atau trampolin
- Bermain air atau pasir
- Melakukan permainan dorong-tarik (heavy work)
- Aktivitas yang melibatkan sentuhan dan tekanan lembut (deep pressure)
Kalau kebutuhan sensorinya gak tersalurkan, perilakunya bisa tampak “berlebihan”, seperti memukul, mencubit, atau menjahili teman. Padahal bukan karena nakal, tapi karena tubuhnya sedang mencari stimulasi sensorik yang belum terpenuhi.
💬 Catatan Kecil untuk Kita
Sebagai orangtua, wajar banget kalau kita ingin memahami lebih dalam perilaku dan karakter anak. Melihat tanda-tanda sensory seeker bukan berarti anak punya gangguan tertentu ya, Moms. Ini justru langkah awal yang baik untuk mengenal cara unik anak dalam merasakan dunia.
Namun, kalau perilaku sensoriknya tampak berlebihan atau mulai memengaruhi aktivitas sehari-hari, misalnya anak sulit fokus, mudah gelisah, atau kesulitan bersosialisasi, sebaiknya konsultasikan ke terapis okupasi (Occupational Therapist). Mereka bisa membantu menilai lebih dalam dan memberikan panduan aktivitas sensorik yang sesuai. Ingat, setiap anak itu unik..
Tugas kita bukan “memperbaiki” mereka, tapi mendampingi dan menyalurkan potensinya dengan penuh pengertian.
✨ Selamat memperingati Sensory Awareness Month, Moms.
Semoga semakin banyak orang tua yang memahami bahwa setiap anak punya cara berbeda dalam merasakan dan menikmati dunia, dan itu semua indah dengan caranya sendiri 💙

Comments
Post a Comment